Pentrasi Telepon Wireless Indonesia, Kapan 95%?

Telepon tanpa kabel (wireless) di Indonesia berkembang dengan cepat. Estimasi awal tahun 2009 jumlah pelanggan telepon wireless sekitar 150 juta. Jika saat ini jumlah penduduk Indonesia 230 juta maka densitas telepon sekitar 65.2 % artinya dalam 100 orang penduduk Indonesia terdapat 65.2 telepon wireless. Kondisi ini masih rendah jika dibandingkan dengan densitas telepon di Malaysia (+/-95%) ataut Thailand (+/- 85%).
Tahun berapa densitas telepon wireless di Indonesia sekitar 95%. Jika kita kalkulasi pertumbuhan pelanggan wireless tahun 2008 sangat spekatakuler karena tahun 2008 pelanggan wireless tumbuh +/- 40 juta yang tersebar pada 11 operator wireless di Indonesia (Telkomsel-GSM, Indosat-GSM, Excel-GSM, Hutchison-GSM, Lippotel-GSM, Fren-CDMA mobile, Smart-CDMA mobile, Ceria-CDMA Mobile, Flexi-CDMA limited mobile, Starone-CDMA limited mobile dan Esia-CDMA limited mobile). Bila tahun 2009 dan tahun 2010 pelanggan wireless juga tumbuh 40 Juta pertahun maka pada akhir tahun 2010 jumlah pelanggan wireless menjadi 230 Juta. Katakan jumlah penduduk Indonesia dalam 2 tahun tumbuh menjadi 235 juta maka densitas telepon pada saat itu sekitar 97.8%.
Teknologi wireless yang digunakan untuk melayani pelanggan meliputi 2G, 2.5G (GPRS), 2.75G (EDGE), 3G (UMTS), 3.5G (HSDPA), CDMA 20001X, CDMA 20001X EVDO. Dengan teknologi GPRS dan CDMA 20001X pelanggan dapat mengakses data dengan kecepatan 64 Kbps – 156 Kbps, sementara 2.75 G 156 Kbps -252 Kbps, 3G 384 Kbps, EVDO dan HSDPA dapat mencapai 2 Mbps atau lebih.
Pemerintah Indonesia sedang memikirkan untuk menggelar satu lagi platform teknologi broadband wireless yang dikenal dengan WiMAX. Saat ini seri WiMax dikenal dua yaitu 802.16-2004 (802.16d, nomadic) dan 802.16e-2005 (802.16e, mobile). Forum WiMax (IEEE) menginformasikan bahwa WiMax adalah teknologi wireless broadband masa depan karena kemampuannya jauh lebih baik dibandingkan dengan teknologi wireless eksisting. Kenyataan sampai dengan sekarang penggunaan WiMax masih jalan ditempat. Operator broadband masih menunggu apalagi forum 3GPP (GSM) dan 3GPP2 (CDMA) melakukan perbaikan teknologi untuk memenuhi kebutuhan bandwidth yang lebih besar. Lagipula jumlah pelanggan yang telah menggunakan GSM dan CDMA didunia telah mencapai 2.5 Milyard pelanggan, sementara WiMax masih dalam orde juta itupun seri 802.16d. Alokasi spectrum frekwensi Wi-Max juga menjadi persoalan yang pelik karena telah dialokasikan. Jadi apakah mendesak implementasi Wi-Max di Indonesia? Silahkan tanggapan rekan-rekan semua …..(sb)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: